agen bola
Selamat Datang di Pasaranbet.com – Agen Bola SBOBET – IBCBET Terpercaya
Apabila anda membutuhkan bantuan, silahkan hubungi CS kami yang sedang bertugas !
Tuesday, 13 November 2018   |   08:03 AM

Agen Bola Terpercaya - Agen SBOBET - Agen IBCBET

Arsenal Anjlok Sesudah Era Invincible, Ini Pendapat Henry

Thierry Henry

Arsenal mengukir sejarah di Inggris melalui skuat The Invincible mereka di musim 2003/2004. Akan tetapi sesudah penampilan itu, Arsenal menurun dan tidak mampu menjuarai liga lagi.

Pada Premier League musim 2003/2004, The Gunners tampil sebagai juara dengan laju yang amat perkasa. Tim besutan Arsene Wenger itu tidak terkalahkan di dalam 38 pertandingan dengan rincian 26 kali menang dan 12 kali imbang.

Itu merupakan gelar ketiga Arsenal di dalam 7 musim terakhir, dimana di dalam 4 musim lainnya mereka finis di posisi runner-up. Ironisnya, gelar yang diraih pada musim 2003/2004 itu juga menandai gelar liga terakhir sejauh ini.

Pada musim berikutnya, Arsenal finis di posisi runner-up dan lantas menurun levelnya. Di dalam 10 musim berikutnya, Arsenal 4 kali finis di posisi 3 dan 6 kali finis di peringkat 4.

Arsenal kembali ke dalam persaingan gelar pada musim 2015/2016, akan tetapi performa menurun pada pertengahan musim membuat mereka mesti puas menjadi runner-up di belakang Leicester City. Tim London Utara ini kemudian finis di peringkat 5 pada musim lalu, sementara itu di musim ini masih menempati peringkat 6.

Sesudah beberapa musim dihujani kritik dan sorotan, Arsenal pada akhirnya memastikan akan ada perubahan untuk musim depan. Wenger bakal meninggalkan klub yang berarti dimulailah era baru.

Mantan pemain Arsenal, Thierry Henry menyesalkan kegagalan Arsenal memaksimalkan momentum ketika sedang mendominasi. Terlepas dari faktor pindah stadion, dari Highbury ke Emirates, Henry menyebut manajemen gagal memanfaatkan daya tarik klub ketika itu untuk menjaga skuat tetap mumpuni.

“Saya selalu punya, bukan sebuah penyesalan karena Anda tidak bisa menyesali apa yang terjadi di dalam hidup mengingat itu terjadi karena sebuah alasan, yakni sedikit kekecewaan. Kami tidak pernah mengambil keuntungan dari dominasi kami” ucap Henry.

“Contohnya, kami dulu merupakan klub yang atraktif, akan tetapi karena kami pindah ke stadion baru dan meninggalkan Highbury, yang mana sepertinya penting dan itu mesti terjadi. Kami semua paham mengenai hal itu, namun kami tidak mampu memaksimalkan dominasi kami” sambung pria berusia 40 tahun itu.

 Kita semua dapat berspekulasi sekarang (jika bertahan di Highbury) dan bilang, ‘Ya, kita bakal mendominasi, akan tetapi yang saya tahu, dan ini kenyataan, kami tidak memaksimalkan dominasi saat itu. Bukan cuma itu, kami tidak menambah skuat untuk menambal kehilangan” lanjut Henry.

Sebagai contohnya, Sky Sports mencatat Arsenal tidak melakukan belanja besar pada musim panas 2004 sesudah juara tanpa terkalahkan. Mereka hanya mengeluarkan 4,4 juta poundsterling untuk menggaet Manuel Almunia, Mathieu Flamini dan Robin Van Persie.

Sementara saat itu Manchester United menghabiskan 40,9 juta pounds untuk merekrut Gabriel Heinze, Alan Smith dan Wayne Rooney. Chelsea yang ambisius dengan pemilik baru bahkan menggelontorkan dana sampai 89,6 juta pounds untuk mendatangkan Petr Cech, Ricardo Carvalho, Tiago Mendes, Arjen Robben dan Didier Drogba.

Bahkan dari bulan Juni 2004 sampai Mei 2013, Arsenal menjadi satu-satunya yang memperoleh untung 20 juta pounds di bursa transfer . Sementara itu pesaing-pesaingnya mengukir angka fantastis, seperti Manchester City yang mengukir belanja bersih sebesar 410 juta pounds, Chelsea menghabiskan 390 juta pounds, MU sebesar 170 juta pounds dan Liverpool dengan 169 juta pounds. Bahkan Tottenham Hotspur pun sebesar 92 juta pounds.

“Anda kehilangan Robert Pires dan Patrick Vieira. Saya tidak akan menyebutkan semuanya, akan tetapi Anda kehilangan para pemain berkualitas, para pemenang dan suara-suara pemimpin di ruang ganti” jelas Henry.

“Saya paham kemana tujuan klub saat itu dan Arsene Wenger beserta klub telah melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa untuk tetap menjadi klub yang saat itu. Tapi kami tidak memaksimalkannya dan sisanya sekarang adalah sejarah” tutup pria kelahiran Les Ulis, 17 Agustus 1977 itu.